Kulihat tanah dan titik-titik air yang berjatuhan dari langit sedang bermesraan. Tiba-tiba aku tersentak bertanya.
“Tanah?”
“Ya?”
“Akankah kau menukar jati dirimu demi hujan..?”
“Maksudmu?” ia memandang penasaran.
“Kutahu kau mencintainya,” kataku.
“Ia akan menerimaku apa adanya.”
“Tapi dunia menuntutmu untuk berubah menjadi becek bila kau bermain dengannya,” bantahku.
Ia tersenyum.
“Aku ini becek dengan caraku. Berbeda dengan becek aspal di jalan raya dan becek rumput di padang luas, bukan?”

