Malam itu, geladak kapal sedang dalam keadaan sunyi, ketika kulihat sesuatu bercahaya di permukaan laut. Tertarik, aku lompat menceburkan diri.
Seekor ubur-ubur raksasa. Indah, bening, memantulkan rembulan. Kaki-kakinya setajam pisau, dengan tentakel beracun di setiap ujungnya. Belum pernah jantungku berdetak sedekat itu dengan makhluk yang begitu berbahaya sekaligus begitu mempesona. Tak hanya jantung, pikiran dan perasaanku juga.
Sepertinya samudera sedang ingin bercanda. Suara kecipak sirip ikan-ikan kecil dari tadi menjelma menjadi melodi. Para anemon menyenandungkan dentuman bernada rendah. Diikuti paduan suara kuda laut.
Mataku masih lekat pada ubur-ubur. Dan baru kusadari, ia berenang seakan menari, menggoda arus tanpa henti.
Aku berenang ke arahnya. Ia menyambarku lembut dengan salah satu tentakel, menarikku layaknya anak kecil menarik mainan. Kupeluk dia, tanpa menyentuh ujung-ujung tentakel. Sungguh, ia hangat. Selamanya aku ingin dekat…
Ya, aku jatuh cinta pada romansa sederhana dari seekor ubur-ubur istimewa.

