Di Balik Hidup, Elegi yang Melempem, dan Tanah Sewaan

Tentang hidup.

Elegi yang melempem, herannya, masih saja dikunyah orang.

Aku cuma meminjam tanah untuk dijadikan tubuhku. Dan akan kukembalikan bila masa sewa telah habis.

 

 

Published in: on 25 January 2012 at 10:03 PM  Leave a Comment  
Tags: , ,

Di Balik Bumi, Ujung Dunia, dan Dear Diary

Juni 2011.

Kupikir dunia itu berujung.

Desember 2011.

Bumi itu bulat.

Kau tahu maksudku.

Published in: on 19 January 2012 at 10:55 AM  Leave a Comment  
Tags: , , , ,

Happy Anniversary; 14th

For the way you keep loving me no matter how harmful I am.
For the way you keep touching me no matter how contagious I can be.
For the way you receive me without hesitation.
For the way you snap me when I’m hurting myself.
For sincerity in a piece of Dark Chocolate, the truth that bitter can truly be sweet..

On my bare knees and in my beating heart.
I love you. People can’t take us apart…

February 15th, 2011
Happy Anniversary my fondness, Muhammad Qee…

Published in: on 15 February 2011 at 7:48 AM  Comments (1)  
Tags:

Di Balik Belukar, Harimau, dan Jebakan

Anak harimau itu merunduk, bersembunyi di balik belukar, sorot matanya ketakutan. Menatap seekor harimau dewasa yang mengaum terjerat jebakan pemburu, bulu-bulunya berdiri tegak. Langkah-langkah terdengar mendekat. Beberapa pasang kaki bersepatu bot. Mereka menyeret ayahnya.

Bayangan-bayangan itu menjauh. Jantungnya berdegup kencang. Cakarnya gemetar. Dalam hati ia bersumpah menjauhi segala macam benda yang berkilauan, potongan bambu dan lubang-lubang mencurigakan, serta tak akan membiarkan makhluk manapun mendekatinya.

Published in: on 19 December 2010 at 4:06 PM  Leave a Comment  
Tags: ,

Di Balik Geladak Kapal, Laut, dan Ubur-ubur Istimewa

Malam itu, geladak kapal sedang dalam keadaan sunyi, ketika kulihat sesuatu bercahaya di permukaan laut. Tertarik, aku lompat menceburkan diri.

Seekor ubur-ubur raksasa. Indah, bening, memantulkan rembulan. Kaki-kakinya setajam pisau, dengan tentakel beracun di setiap ujungnya. Belum pernah jantungku berdetak sedekat itu dengan makhluk yang begitu berbahaya sekaligus begitu mempesona. Tak hanya jantung, pikiran dan perasaanku juga.

Sepertinya samudera sedang ingin bercanda. Suara kecipak sirip ikan-ikan kecil dari tadi menjelma menjadi melodi. Para anemon menyenandungkan dentuman bernada rendah. Diikuti paduan suara kuda laut.

Mataku masih lekat pada ubur-ubur. Dan baru kusadari, ia berenang seakan menari, menggoda arus tanpa henti.

Aku berenang ke arahnya. Ia menyambarku lembut dengan salah satu tentakel, menarikku layaknya anak kecil menarik mainan. Kupeluk dia, tanpa menyentuh ujung-ujung tentakel. Sungguh, ia hangat. Selamanya aku ingin dekat…

Ya, aku jatuh cinta pada romansa sederhana dari seekor ubur-ubur istimewa.

Published in: on 17 December 2010 at 9:21 PM  Leave a Comment  
Tags: ,

Di Balik Tanah, Becek, dan Cara

Kulihat tanah dan titik-titik air yang berjatuhan dari langit sedang bermesraan. Tiba-tiba aku tersentak bertanya.

“Tanah?”

“Ya?”

“Akankah kau menukar jati dirimu demi hujan..?”

“Maksudmu?” ia memandang penasaran.

“Kutahu kau mencintainya,” kataku.

“Ia akan menerimaku apa adanya.”

“Tapi dunia menuntutmu untuk berubah menjadi becek bila kau bermain dengannya,” bantahku.

Ia tersenyum.

“Aku ini becek dengan caraku. Berbeda dengan becek aspal di jalan raya dan becek rumput di padang luas, bukan?”

Published in: on 17 December 2010 at 8:03 PM  Leave a Comment  
Tags: , , , ,

Di Balik Cemas, Hujan, dan Pembuktian

Ada sejumput kecemasan yang tak turut larut bersama genangan hujan malam ini. Aku takut. Entahlah, kurasa bukan karena sejumlah kesalahan yang manusiawi.

Aku menginginkan posisi itu, bukan karena aku benar-benar menginginkannya. Tapi aku cuma ingin membuktikan bahwa aku bukanlah sumber segala macam ‘masalah’ yang berhubungan dengannya. Aku mencintainya. Sungguh. Tak ada sedikitpun niatku untuk merusaknya.

Namun seandainya pun kuraih juara umum itu, apakah itu cukup untuk pembuktian?

Dan kalau rencanaku gagal… Sebab dari awal itu bukan targetku… Akankah aku semakin ‘tertuduh’?

Guntur memecah. Ah, adzan. Aku pasrah. Biar Dia yang menyelesaikan.

Published in: on 17 December 2010 at 7:40 PM  Leave a Comment  
Tags: , , , , ,

Di Balik Jarum Jam, Hening, dan Sunyi

Jarum jam menunjukkan pukul dua. Hening. Sunyi. Sepertinya aku satu-satunya makhluk yang belum terlelap di rumah ini. Mataku mengantuk berat… Tapi aku telah bertekad akan menyelesaikannya.

Ia menatapku curiga. Mungkin bingung, entah apa yang akan kulakukan padanya. Ya, ia menatap aku. Kugoreskan lagi, lagi, dan lagi.

Ia mengerang. Pasti sakit. Sabar ya, Nak… bisikku. Semua akan baik-baik saja. Ia menurut, pasrah saja menerima guratan demi guratan.

Setengah mati aku melahirkannya. Tubuhku ngilu hingga ke tulang. Sedikit lega ketika ia sudah bisa kutimang di tangan. Awalnya ia terlihat pucat. Panik, kubuat ia menangis. Setelah itu wajahnya menjadi cerah kemerahan. Bayiku sehat.

“Mama?”

“Ya, sayang..”

“Kapan aku bertemu ayah?”

“Sebentar lagi..”

Published in: on 14 December 2010 at 9:30 PM  Leave a Comment  
Tags: , , , ,

Di Balik Kematian, Wanita Tua, dan Malaikat Maut

“Apa pendapatmu tentang kematian?” tanya si wanita tua pada pria muda yang duduk di hadapannya.

“Seharusnya aku yang bilang begitu…” kata pria itu, menggerutu.

Wanita itu tersenyum. Kerut-kerut kulit wajahnya terlihat jelas. Usianya delapan puluh tahun, namun tubuhnya masih dalam keadaan begitu baik.

“Aku ingin tahu jawabanmu,” tegasnya.

“Biasa saja,” jawab pria itu.

“Tak ada yang spesial dari kematian,” lanjutnya.

“Mudah bagimu berkata begitu, sebagai malaikat maut.. Kau telah melihat orang-orang menjelang kematiannya. Tapi kau tidak melihat bagaimana mereka hidup.”

“Apa pendapatmu tentang kehidupan?” Pria itu balik bertanya.

“Biasa saja.”

“Tapi penting,” ia melanjutkan, “penting bagi kami yang menjalaninya. Tak ada yang spesial dari matahari menyinari bumi. Namun amat penting untuk planet ini..” katanya.

“Maaf. Tapi aku belum pernah melihat langit biru,” kata si pemuda.

“Oh,maaf. Aku lupa. Tentu saja kau tak mengerti analogi itu,” si wanita tersenyum lagi.

- – -

“Bagaimana target kita?” tanya si anjing.

Pria itu tak menjawab.

“Ia membuatmu bingung.” Kata si anjing.

Si pria mengangguk.

“Jadi… bagaimana? ‘Lanjutkan‘ ?”

“Mestinya begitu…”

Mereka berdiri diam menatap lautan.

Published in: on 5 June 2010 at 2:06 PM  Comments (2)  
Tags: , , , ,

Di Balik Tatapan, Sebentar dan Hilang

Ia menatapku.

“Sebentar ya,”  kataku, berjalan menuju gerbang.

Dan sebelum aku tiba, ia sudah menghilang, lari dari celah pagar.

Published in: on 5 June 2010 at 1:43 PM  Leave a Comment  
Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 399 other followers