Di Balik Perikardium, Jantung, dan Patogen

Tuhan menciptakan lapisan perikardium dengan sebuah alasan yang kupikir cukup jelas:

Untuk melindungi jantung dari serangan bakteri patogen. Juga untuk mengajarkan manusia sebuah prinsip sederhana.

Stay away from those who will only destroy your heart.

Published in: on 28 February 2012 at 8:28 AM  Leave a Comment  
Tags: , ,

Di Balik Emas, Titip, dan Ransel yang Tak Seberapa

Gelang-gelang emas yang kau titipkan padaku dalam mimpi. Entah apa yang membuatmu begitu tergesa-gesa hingga bisa dengan mudahnya mempercayaiku. Bukannya aku punya niat jahat, namun bagaimana jika gunungan perhiasanmu itu tumpah dari ranselku yang ukurannya tak seberapa besar ini?

Published in: on 13 February 2012 at 2:40 PM  Leave a Comment  
Tags: ,

Di Balik Phobos, Jantung, dan Bukan Mars

Ketika kau memindahkan Phobos ke jantungku yang bukan Mars. Legenda Yunani dari satelit yang satu itu… membuatku bungkam tigabelas ribu bahasa.

Published in: on 13 February 2012 at 11:22 AM  Leave a Comment  
Tags: , ,

Segitiga Pandora

My dear Zivan
Benar atau salah – itu semua hanya ada di perasaan kamu, tepatnya, di dalam pikiran kamu.
Menurut aku, kamu sudah melakukan keputusan yang “tepat”.

Dia tidak lagi ada dalam “bukumu”.
Buku itu telah ditutup.

Dulu, buku itu pernah memiliki “masanya”… memiliki kisahnya…
Ada banyak kisah yang mungkin masih bisa dijalani.
Tapi salah seorang telah lebih dahulu menutup buku itu.
Yang seorang lagi dengan susah payah mencoba untuk “membereskan” keberantakan yg terjadi…

Lalu… muncullah seorang “dewa penyelamat”.
Dia tidak ikut dalam kisah-kisah sebelumnya…
Tapi dia selalu “ada” saat kamu limbung…

Sekarang???
Enak saja – datang untuk “hanya” sekadar say hello?!
Hallooooo… who the hell is he??? >,<
Bangun Zivan sayang!!!
Apalagi kalau kamu bilang “kemungkinan besar” kamu tidak yakin dengan dirimu sendiri.
Percayalah… dia tidak berhak untuk itu!!!
Dan percayalah… itu hanya ada dalam dugaanmu!
Kamu kira – kamu “mungkin” masih suka dia.
Itu sangat manusiawi.
Tanpa sengaja, semua kisah yang dulu pernah terjalin ternyata masih “terekam”.
Tapi percayalah… jika kisah itu harus diulang -atau terulang- maka semuanya tidak akan pernah sama lagi…
Ada lembaran-lembaran buku yang sudah terkoyak.
Dan koyakan-koyakan itu sebagian besar sudah hilang tertiup angin.
Apapun yang terjadi, semuanya tak akan pernah sama lagi…
Terimalah kenyataan itu!
Jadi, jangan pernah terpukau dengan semua kenangan yang “dulu” indah!!!
Dulu, indah. Memang.
Sekarang, tidak sama lagi!
Ingat, dia tidak berhak datang – untuk mengacaukan hidupmu lagi, sayangku… Tidak! Dia tidak sehebat itu!

Sekarang, kamu telah memiliki “bukumu” sendiri bersama dia yang sekarang…
Isilah buku kalian dengan berbagai kisah perjalanan kalian… baik yang manis maupun pahit…
Semuanya kelak akan mewarnai buku kalian… dan mendewasakan kalian berdua…

Satu hal lagi, baik sekali kamu katakan ingin setia padanya sebagai bentuk terima kasihmu.
Tapi kalian berdua berhak untuk bahagia dengan lembaran-lembaran baru buku kalian… Jadi, lebih baik lagi jika kesetiaan itu kamu lakukan untuk dirimu sendiri. Untuk dia yang terkasih. Untuk keindahan penyatuan kalian berdua. Tanpa embel-embel apapun. Murni atas nama cinta.

Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua…
Love you both...”

Published in: on 1 February 2012 at 9:46 PM  Leave a Comment  
Tags: , , , , , ,

Di Balik Hidup, Elegi yang Melempem, dan Tanah Sewaan

Tentang hidup.

Elegi yang melempem, herannya, masih saja dikunyah orang.

Aku cuma meminjam tanah untuk dijadikan tubuhku. Dan akan kukembalikan bila masa sewa telah habis.

 

 

Published in: on 25 January 2012 at 10:03 PM  Leave a Comment  
Tags: , ,

Di Balik Bumi, Ujung Dunia, dan Dear Diary

Juni 2011.

Kupikir dunia itu berujung.

Desember 2011.

Bumi itu bulat.

Kau tahu maksudku.

Published in: on 19 January 2012 at 10:55 AM  Leave a Comment  
Tags: , , , ,

Happy Anniversary; 14th

For the way you keep loving me no matter how harmful I am.
For the way you keep touching me no matter how contagious I can be.
For the way you receive me without hesitation.
For the way you snap me when I’m hurting myself.
For sincerity in a piece of Dark Chocolate, the truth that bitter can truly be sweet..

On my bare knees and in my beating heart.
I love you. People can’t take us apart…

February 15th, 2011
Happy Anniversary my fondness, Muhammad Qee…

Published in: on 15 February 2011 at 7:48 AM  Comments (1)  
Tags:

Di Balik Belukar, Harimau, dan Jebakan

Anak harimau itu merunduk, bersembunyi di balik belukar, sorot matanya ketakutan. Menatap seekor harimau dewasa yang mengaum terjerat jebakan pemburu, bulu-bulunya berdiri tegak. Langkah-langkah terdengar mendekat. Beberapa pasang kaki bersepatu bot. Mereka menyeret ayahnya.

Bayangan-bayangan itu menjauh. Jantungnya berdegup kencang. Cakarnya gemetar. Dalam hati ia bersumpah menjauhi segala macam benda yang berkilauan, potongan bambu dan lubang-lubang mencurigakan, serta tak akan membiarkan makhluk manapun mendekatinya.

Published in: on 19 December 2010 at 4:06 PM  Leave a Comment  
Tags: ,

Di Balik Geladak Kapal, Laut, dan Ubur-ubur Istimewa

Malam itu, geladak kapal sedang dalam keadaan sunyi, ketika kulihat sesuatu bercahaya di permukaan laut. Tertarik, aku lompat menceburkan diri.

Seekor ubur-ubur raksasa. Indah, bening, memantulkan rembulan. Kaki-kakinya setajam pisau, dengan tentakel beracun di setiap ujungnya. Belum pernah jantungku berdetak sedekat itu dengan makhluk yang begitu berbahaya sekaligus begitu mempesona. Tak hanya jantung, pikiran dan perasaanku juga.

Sepertinya samudera sedang ingin bercanda. Suara kecipak sirip ikan-ikan kecil dari tadi menjelma menjadi melodi. Para anemon menyenandungkan dentuman bernada rendah. Diikuti paduan suara kuda laut.

Mataku masih lekat pada ubur-ubur. Dan baru kusadari, ia berenang seakan menari, menggoda arus tanpa henti.

Aku berenang ke arahnya. Ia menyambarku lembut dengan salah satu tentakel, menarikku layaknya anak kecil menarik mainan. Kupeluk dia, tanpa menyentuh ujung-ujung tentakel. Sungguh, ia hangat. Selamanya aku ingin dekat…

Ya, aku jatuh cinta pada romansa sederhana dari seekor ubur-ubur istimewa.

Published in: on 17 December 2010 at 9:21 PM  Leave a Comment  
Tags: ,

Di Balik Tanah, Becek, dan Cara

Kulihat tanah dan titik-titik air yang berjatuhan dari langit sedang bermesraan. Tiba-tiba aku tersentak bertanya.

“Tanah?”

“Ya?”

“Akankah kau menukar jati dirimu demi hujan..?”

“Maksudmu?” ia memandang penasaran.

“Kutahu kau mencintainya,” kataku.

“Ia akan menerimaku apa adanya.”

“Tapi dunia menuntutmu untuk berubah menjadi becek bila kau bermain dengannya,” bantahku.

Ia tersenyum.

“Aku ini becek dengan caraku. Berbeda dengan becek aspal di jalan raya dan becek rumput di padang luas, bukan?”

Published in: on 17 December 2010 at 8:03 PM  Leave a Comment  
Tags: , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 408 other followers