“My dear Zivan…
Benar atau salah – itu semua hanya ada di perasaan kamu, tepatnya, di dalam pikiran kamu.
Menurut aku, kamu sudah melakukan keputusan yang “tepat”.
Dia tidak lagi ada dalam “bukumu”.
Buku itu telah ditutup.
Dulu, buku itu pernah memiliki “masanya”… memiliki kisahnya…
Ada banyak kisah yang mungkin masih bisa dijalani.
Tapi salah seorang telah lebih dahulu menutup buku itu.
Yang seorang lagi dengan susah payah mencoba untuk “membereskan” keberantakan yg terjadi…
Lalu… muncullah seorang “dewa penyelamat”.
Dia tidak ikut dalam kisah-kisah sebelumnya…
Tapi dia selalu “ada” saat kamu limbung…
Sekarang???
Enak saja – datang untuk “hanya” sekadar say hello?!
Hallooooo… who the hell is he??? >,<
Bangun Zivan sayang!!!
Apalagi kalau kamu bilang “kemungkinan besar” kamu tidak yakin dengan dirimu sendiri.
Percayalah… dia tidak berhak untuk itu!!!
Dan percayalah… itu hanya ada dalam dugaanmu!
Kamu kira – kamu “mungkin” masih suka dia.
Itu sangat manusiawi.
Tanpa sengaja, semua kisah yang dulu pernah terjalin ternyata masih “terekam”.
Tapi percayalah… jika kisah itu harus diulang -atau terulang- maka semuanya tidak akan pernah sama lagi…
Ada lembaran-lembaran buku yang sudah terkoyak.
Dan koyakan-koyakan itu sebagian besar sudah hilang tertiup angin.
Apapun yang terjadi, semuanya tak akan pernah sama lagi…
Terimalah kenyataan itu!
Jadi, jangan pernah terpukau dengan semua kenangan yang “dulu” indah!!!
Dulu, indah. Memang.
Sekarang, tidak sama lagi!
Ingat, dia tidak berhak datang – untuk mengacaukan hidupmu lagi, sayangku… Tidak! Dia tidak sehebat itu!
Sekarang, kamu telah memiliki “bukumu” sendiri bersama dia yang sekarang…
Isilah buku kalian dengan berbagai kisah perjalanan kalian… baik yang manis maupun pahit…
Semuanya kelak akan mewarnai buku kalian… dan mendewasakan kalian berdua…
Satu hal lagi, baik sekali kamu katakan ingin setia padanya sebagai bentuk terima kasihmu.
Tapi kalian berdua berhak untuk bahagia dengan lembaran-lembaran baru buku kalian… Jadi, lebih baik lagi jika kesetiaan itu kamu lakukan untuk dirimu sendiri. Untuk dia yang terkasih. Untuk keindahan penyatuan kalian berdua. Tanpa embel-embel apapun. Murni atas nama cinta.

Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua…
Love you both...”